Kendari, 18 April 2026 — Universitas Mandala Waluya, melalui Unit Hub Kerjasama, secara resmi meluncurkan Pusat Inovasi Penelitian Maritim (PIPM) yang menandai era baru bagi pengembangan riset berkelanjutan di kawasan Sulawesi Tenggara. Inisiatif strategis ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara para dosen, mahasiswa, dan mitra industri yang berfokus pada solusi inovatif untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi kelautan Indonesia.
Peluncuran pusat penelitian ini dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, M.Si., bersama dengan Kepala Unit Hub Kerjasama, Ir. Siti Nurhaliza, M.Eng., serta sejumlah stakeholder terkemuka dari industri maritim, pemerintah lokal, dan institusi pendidikan tinggi lainnya. Acara yang berlangsung di Aula Utama Kampus Kendari ini menampilkan presentasi lima proyek penelitian unggulan yang telah dikembangkan selama dua tahun terakhir.
Latar Belakang dan Visi Strategis
Universitas Mandala Waluya, yang sejak berdiri pada tahun 1998 berkomitmen pada pengembangan sumber daya manusia berkualitas, kini mengambil langkah progresif dengan mengintegrasikan penelitian akademik dengan aplikasi praktis di lapangan. Keputusan pendirian PIPM didasarkan pada kesadaran mendalam tentang potensi maritim Sulawesi Tenggara yang belum sepenuhnya dioptimalkan, seiring dengan urgensi penyelamatan ekosistem laut yang semakin terancam.
“Kami percaya bahwa universitas tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan konvensional, tetapi juga sebagai mesin inovasi yang dapat berkontribusi langsung pada pembangunan berkelanjutan masyarakat,” ujar Prof. Bambang Sutrisno dalam sambutan pembukaan. “Dengan meluncurkan PIPM, kami memposisikan Mandala Waluya sebagai pusat keunggulan riset maritim yang siap menjawab tantangan zaman.”
Menurut data yang dipresentasikan dalam acara peluncuran, sektor maritim Indonesia saat ini menghadapi beberapa tantangan krusial: degradasi terumbu karang sebesar 32 persen dalam dekade terakhir, potensi ekonomi perikanan yang belum optimal dimanfaatkan, serta ketergantungan teknologi impor untuk operasional kelautan yang masih tinggi. Pusat penelitian ini dirancang untuk memberikan solusi lokal yang dapat diadopsi oleh komunitas nelayan dan industri maritim regional.
Proyek-Proyek Penelitian Unggulan
Dalam kesempatan peluncuran, lima proyek penelitian menjadi sorotan utama dan menjadi bukti konkret komitmen akademik di Universitas Mandala Waluya. Setiap proyek dirancang dengan melibatkan minimal dua puluh mahasiswa dari berbagai program studi, mulai dari Teknik Kelautan, Biologi Laut, hingga Manajemen Sumber Daya Perikanan.
Proyek pertama, berjudul “Pengembangan Sistem Monitoring Terumbu Karang Berbasis IoT dan Machine Learning,” dipimpin oleh Dr. Asep Hidayatullah, M.Tech., dosen Departemen Teknik Informatika. Proyek inovatif ini menggabungkan teknologi Internet of Things dengan kecerdasan buatan untuk memantau kesehatan terumbu karang secara real-time. Sistem yang dikembangkan menggunakan sensor bawah air yang dapat mendeteksi perubahan suhu, tingkat keasaman, dan kepadatan biota laut dengan presisi tinggi.
“Tim kami telah melakukan uji coba di tiga lokasi karang di perairan Kendari selama enam bulan, dan hasilnya sangat menggembirakan,” jelas Dr. Asep dalam presentasinya. “Akurasi deteksi dini kerusakan karang mencapai 94 persen, jauh lebih tinggi dari metode konvensional yang hanya mencapai 60 persen. Sistem ini dapat diskalakan untuk memonitor ribuan hektar terumbu karang dengan biaya operasional yang jauh lebih efisien.”
Proyek kedua, “Bioproses Pemurnian Air Laut Menggunakan Mikroalga Lokal,” menunjukkan hasil yang tidak kalah menggembirakan. Dipimpin oleh Prof. Dr. Herawati Wijaya, M.S., bersama dengan delapan mahasiswa program studi Biologi, proyek ini memanfaatkan spesies mikroalga endemik Sulawesi untuk memproses air laut menjadi air tawar berkualitas tinggi. Teknologi ini memiliki keunggulan signifikan dibanding metode desalinasi konvensional karena lebih ramah lingkungan dan biaya produksi yang lebih rendah hingga 60 persen.
“Kami telah mengidentifikasi tiga spesies mikroalga yang sangat efektif dalam menyerap garam dan kontaminan lainnya,” ungkap Prof. Herawati. “Prototype pilot plant kami telah memproduksi hingga lima ribu liter air tawar per hari dengan kualitas yang memenuhi standar nasional. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk komunitas pesisir yang masih kekurangan air bersih.”
Proyek ketiga berfokus pada “Pengembangan Material Komposit Ramah Lingkungan dari Limbah Perikanan untuk Industri Maritim.” Dipimpin oleh Ir. Dwi Purnomo, Ph.D., proyek ini mengubah limbah tulang ikan, sisik, dan kulit yang sebelumnya dianggap sampah menjadi material berkualitas tinggi. Material komposit yang dihasilkan dapat digunakan untuk pembuatan kapal penangkap ikan modern, sistem perpipaan, dan infrastruktur maritim lainnya.
Keempat, “Sistem Manajemen Logistik Perikanan Tangkap Berbasis Blockchain,” menunjukkan bagaimana teknologi terdepan dapat meningkatkan transparansi dalam rantai pasokan perikanan. Proyek yang dipimpin oleh Ir. Muhammad Rizqi, M.Eng., memungkinkan konsumen melacak jejak ikan dari nelayan hingga ke meja makan mereka, sekaligus memastikan praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan.
Kelima, “Pusat Pelatihan Teknologi Budidaya Laut Terintegrasi untuk Petani Ikan Lokal,” menunjukkan komitmen universitas dalam mendorong adopsi teknologi. Proyek ini telah melatih lebih dari seratus petani ikan lokal dalam mengadopsi teknik budidaya laut modern yang ramah lingkungan dan produktif.
Dampak dan Signifikansi Penelitian
Unit Hub Kerjasama Universitas Mandala Waluya, di bawah kepemimpinan Ir. Siti Nurhaliza, telah memastikan bahwa setiap proyek penelitian memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan pasar dan komunitas lokal. Strategi ini berbeda dari pendekatan akademik tradisional yang sering menghasilkan penelitian tanpa aplikasi praktis.
“Kami telah menjalin kemitraan dengan lima perusahaan swasta dan tiga organisasi pemerintah untuk memastikan penelitian kami dapat segera diimplementasikan,” kata Ir. Siti Nurhaliza. “Dana penelitian tahun ini mencapai 4,8 miliar rupiah, terbesar dalam sejarah universitas kami. Ini adalah bukti kepercayaan stakeholder terhadap kapabilitas akademik Mandala Waluya.”
Investasi besar dalam penelitian ini telah membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam proyek-proyek bernilai tinggi sejak masa studi. Muhammad Rizki Pratama, mahasiswa semester delapan Program Studi Teknik Kelautan, adalah salah satu dari ratusan mahasiswa yang terlibat dalam PIPM.
“Saya tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi langsung terlibat dalam riset yang hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat nelayan Kendari,” tutur Muhammad Rizki. “Pengalaman ini membuat saya lebih siap memasuki dunia kerja. Beberapa rekan saya sudah mendapat tawaran pekerjaan dari perusahaan mitra sebelum lulus kuliah.”
Dampak ekonomi dari penelitian-penelitian ini juga signifikan. Estimasi awal menunjukkan bahwa dengan penerapan teknologi-teknologi yang dikembangkan, pendapatan petani dan nelвърать lokal dapat meningkat antara 25 hingga 40 persen. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara telah mengekspresikan minatnya untuk mengalokasikan anggaran khusus untuk disseminasi teknologi ini ke seluruh komunitas pesisir provinsi.
Kemitraan dan Kolaborasi Global
PIPM juga telah membangun jaringan kolaborasi internasional. Universitas Mandala Waluya telah menjalin perjanjian kerjasama dengan tiga universitas terkemuka dari Malaysia, Filipina, dan Thailand dalam bidang riset maritim. Pertukaran peneliti dan mahasiswa direncanakan akan dimulai pada kuartal ketiga tahun 2026.
“Kami melihat ini sebagai awal dari sebuah ekosistem riset maritim regional yang kuat,” jelas Prof. Bambang Sutrisno. “Dengan menggabungkan keahlian dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, kami dapat menciptakan solusi yang lebih komprehensif untuk tantangan maritim regional.”
Rencana Pengembangan Masa Depan
Pihak universitas telah merencanakan pengembangan PIPM dalam tiga tahun mendatang dengan target ambisius namun realistis. Fasilitas fisik akan diperluas dengan menambah laboratorium spesialisasi, termasuk wet lab untuk penelitian biologi laut, advanced fabrication lab untuk material komposit, dan data center untuk pemrosesan big data maritim.
Budget pengembangan infrastruktur PIPM untuk tiga tahun ke depan mencapai 18 miliar rupiah, dengan sumber pendanaan berasal dari alokasi universitas, hibah pemerintah, dan kontribusi swasta. Target ambisius universitas adalah menjadikan PIPM sebagai pusat penelitian maritim terdepan se-Asia Tenggara dalam lima tahun.
“Kami juga berencana untuk menghasilkan minimal dua puluh publikasi ilmiah internasional per tahun dan memiliki lima paten terdaftar,” tambah Ir. Siti Nurhaliza. “Ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun reputasi akademik Mandala Waluya di tingkat global.”
Penutup
Peluncuran Pusat Inovasi Penelitian Maritim Universitas Mandala Waluya merepresentasikan transformasi paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Universitas tidak lagi hanya menjadi menara gading yang terlepas dari realitas sosial, melainkan menjadi agen perubahan yang aktif berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Dengan melibatkan dosen dan mahasiswa dalam penelitian berkualitas tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, Universitas Mandala Waluya telah membuktikan bahwa inovasi tidak harus berasal dari institusi berukuran mega atau berlokasi di pusat ibukota. Inovasi bermakna dapat lahir dari dedikasi, visi jelas, dan kepemimpinan yang visioner di institusi mana pun.
Sebagaimana dituturkan Prof. Bambang Sutrisno dalam kesempatan penutupan, “Kendari bukan tepi Indonesia. Kendari adalah ujung tombak inovasi maritim nasional. Dan Universitas Mandala Waluya siap memimpin transformasi ini menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.”
—
Penulis: Tim Jurnalistik Kampus Universitas Mandala Waluya
Editor: Bagian Humas dan Publikasi
Sumber Foto: Dokumentasi Acara Peluncuran PIPM, 18 April 2026